
PENING SETELAH TIDUR SORE, MENGAPA?
PENING SETELAH TIDUR SORE, MENGAPA ?
Tidur siang adalah cara yang ampuh untuk mengembalikan energi di sela-sela aktivitas. Beberapa studi bahkan menyebutkan kalau tidur di siang hari, bisa meningkatkan konsentrasi dan produktivitas. Namun, ada kasus di mana tubuh justru merasa pusing saat bangun tidur. Kira-kira kenapa, ya?
Nah, sebagian orang justru mengeluhkan perasaan pusing, lesu, bahkan uring-uringan setelah bangun tidur ketika sore, terutama bila bangun di waktu menjelang malam, atau sekitar pukul 17.30 hingga waktu magrib. Kondisi ini, sering kali bikin orang percaya kalau tidur di waktu sore itu tidak baik.
Sleep Inertia, Biang Keladi Pusing saat Bangun Tidur
Ilustrasi Sleep Inertia, Kepala Pusing saat Bangun Tidur
Perasaan bingung, pusing, dan malas gerak setelah bangun tidur sore sebenarnya bukanlah hal aneh. Hal ini bukan disebabkan oleh hal-hal mistis seperti yang tersebar di kepercayaan masyarakat. Dalam dunia medis, kondisi ini populer dengan dengan sleep inertia.
Sleep inertia adalah fase transisi antara tidur dan terjaga di mana tubuh belum sepenuhnya bangun. Saat itu terjadi, kita mungkin sudah membuka mata, tetapi otak dan fungsi kognitif sebetulnya belum bekerja secara maksimal. Akibatnya, timbul rasa linglung, sulit fokus, dan keinginan kuat untuk kembali tidur.
Durasi sleep inertia biasanya hanya berlangsung 5-30 menit saja, tetapi pada orang yang kurang tidur, efek ini bisa bertahan hingga berjam-jam lamanya. Tak heran jika tidur sore justru malah membuat badan terasa semakin berat, bukannya segar.
Kenapa Tidur Sore Bisa Bikin Linglung?
Ilustrasi Terbangun saat Sedang Tidur Nyenyak Menyebabkan Sleep Inertia
Hingga saat ini, belum ada penyebab tunggal yang pasti. Namun, melansir dari laman Hello Sehat, fase tidur sangat berperan dalam munculnya sleep inertia. Jadi, secara umum, tidur manusia terbagi ke dalam empat tahapan. Apa saja?
NREM 1 atau tidur ringan, tubuh masih setengah sadar dan mudah terbangun.
NREM2 atau tidur lebih dalam, detak jantung dan napas melambat dan tubuh semakin rileks.
NREM3 atau tidur nyenyak, otak menghasilkan gelombang delta yang membuat tubuh benar-benar istirahat.
REM atau tidur bermimpi, di sini aktivitas otak meningkat, sering disertai mimpi.
Nah, sleep inertia paling sering terjadi bila seseorang terbangun ketika berada di tahap tidur nyenyak (NREM 3). Pada fase ini, otak dalam kondisi paling pasif, sehingga tubuh memerlukan waktu lebih lama untuk bisa menyala kembali. Waktu tidur yang tanggung di sore hari, bikin linglung saat terbangun di fase nyenyak.
Sleep inertia juga berhubungan dengan lambatnya aktivasi bagian otak tertentu, misalnya bagian korteks prefrontal (PFC) yang berperan dalam pengambilan keputusan, kontrol motorik, dan fokus. PFC bisa butuh waktu hingga 30 menit lebih lama untuk benar-benar pulih setelah bangun tidur.
Selain durasi tidur yang tidak tepat tersebut, ada beberapa alasan kenapa tidur menjelang malam terasa lebih berat dan membuat pusing. Mulai dari faktor adaptasi pada jam biologis tidur, kebiasaan dan pola tidur yang tidak teratur, produksi hormon, hingga faktor psikologis akan keyakinan jika tidur sore itu tidak baik.
Cara Mencegah dan Mengatasi Sleep Inertia
Fenomena sleep inertia biasanya tak berbahaya. Seperti penjelasan sebelumnya, fenomena ini hanyalah satu proses tubuh untuk beralih dari keadaan terlelap ke keadaan terjaga. Meski begitu, kita bisa meminimalisasi efeknya dengan langkah-langkah berikut ini!
Idealnya, tidur siang cukup 10-30 menit saja, jangan lebih dari itu. Tidur lebih lama dari itu, akan membuat kita masuk ke fase tidur nyenyak sehingga risiko bangun dalam keadaan pusing lebih besar.
Perhatikan waktu tidur, waktu terbaik untuk tidur siang adalah sekitar pukul 1-3 siang. Tidur terlalu sore, apalagi menjelang malam, justru bisa mengganggu ritme sirkadian dan kualitas tidur malam kita nantinya.
Sleep inertia lebih sering muncul pada orang-orang yang kekurangan tidur. Nah, pastikan kita selalu mendapatkan tidur malam yang cukup, yaitu 7-8 jam per hari. Jika bisa, buatlah jadwal tidur, lakukanlah secara konsisten meski di hari libur sekalipun.
Jika memungkinkan, biarkan tubuh bangun secara alami. Bangun mendadak akibat alarm bisa membuat otak sulit menyesuaikan diri. Orang yang mengalami sleep inertia saat bangun tidur, biasanya terbangun secara mendadak, saat ia masih dalam keadaan nyenyak.
Setelah bangun, jangan langsung melakukan aktivitas berat. Luangkan 10-30 menit pertama untuk meregangkan tubuh, minum air putih, atau berjalan sebentar. Jika perlu cuci muka hingga konsumsi kopi dan teh dalam jumlah wajar.



