Cheese tea dan manfaatnya bagi kesehatan sangat banyak serta menjadi salah satu minuman kekinian yang populer di berbagai kalangan, khususnya remaja dan dewasa muda. Meski lezat dan menyegarkan, konsumsi cheese tea sebaiknya tetap dibatasi agar terhindar dari efek negatif bagi kesehatan, terutama bila dikonsumsi secara berlebihan.
Cheese tea biasanya disajikan dengan teh oolong, krim keju, gula, susu, dan aneka topping, seperti boba atau jelly. Minuman ini tidak hanya menarik secara tampilan, tetapi juga digemari karena keunikan rasa gurih dan krim dari keju yang bercampur dengan manisnya teh.
Namun, di balik sensasi tersebut, cheese tea mengandung kalori, gula, dan lemak yang cukup tinggi, sehingga penting untuk memahami kandungan serta dampaknya bagi kesehatan tubuh.
Cheese Tea dan Manfaatnya bagi Kesehatan
Jika dikonsumsi tanpa tambahan berlebih, seperti gula atau topping, cheese tea tetap dapat memberikan manfaat bagi tubuh. Hal ini karena sebagian besar manfaatnya berasal dari teh sebagai bahan utama yang mengandung antioksidan, serta susu yang menyumbang beberapa nutrisi penting bagi kesehatan.
Berikut ini adalah beberapa manfaat cheese tea yang bisa Anda dapatkan:
1. Memberikan asupan antioksidan
Cheese tea mengandung polifenol dari teh yang berperan sebagai antioksidan untuk membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Namun, manfaat ini akan lebih optimal jika kandungan gula dan krim dalam cheese tea tidak berlebihan, karena penambahan tersebut dapat mengurangi efek baik dari teh.
2. Meningkatkan energi dan fokus
Kandungan kafein dalam cheese tea dapat membantu meningkatkan energi, fokus, dan kewaspadaan saat beraktivitas. Efek ini bermanfaat terutama saat merasa lelah atau mengantuk, tetapi tetap perlu dibatasi agar tidak menimbulkan efek samping, seperti jantung berdebar atau sulit tidur.
3. Menyegarkan tubuh
Cheese tea umumnya disajikan dalam kondisi dingin sehingga dapat memberikan sensasi segar, terutama saat cuaca panas atau setelah beraktivitas. Perpaduan rasa manis, gurih, dan sedikit asin juga dapat membantu meningkatkan suasana hati, sehingga cocok sebagai minuman selingan.
Namun, perlu diingat bahwa berbagai manfaat cheese tea tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan keamanan konsumsinya dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, jika Anda ingin mengonsumsinya secara rutin atau untuk tujuan kesehatan tertentu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu ke dokter agar lebih aman sesuai kondisi tubuh Anda.
Cheese Tea dan Risiko Kesehatan di Baliknya
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, cheese tea merupakan minuman manis yang umumnya mengandung tinggi gula, lemak, dan kalori. Dalam 1 gelas cheese tea (sekitar 600 ml), kandungan kalori bisa mencapai sekitar 250–450 kalori dan gula sekitar 60 gram.
Jumlah gula tersebut bahkan melebihi batas asupan gula harian yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yaitu sekitar 50 gram atau setara dengan 4 sendok makan per hari.
Jika dikonsumsi terlalu sering atau dalam jumlah berlebihan, cheese tea dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan, di antaranya:
1. Kerusakan gigi
Kandungan gula yang tinggi dalam cheese tea, terutama jika ditambah topping seperti boba atau jelly, dapat menempel pada permukaan gigi. Gula ini kemudian diolah oleh bakteri di mulut menjadi asam yang dapat merusak lapisan enamel gigi, sehingga meningkatkan risiko gigi berlubang.
2. Gangguan pencernaan
Cheese tea umumnya mengandung lemak jenuh dari krim keju serta rendah serat. Konsumsi minuman ini secara berlebihan dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti kembung atau sembelit, terutama jika tidak diimbangi dengan asupan serat yang cukup.
3. Obesitas
Kandungan gula dan kalori yang tinggi pada cheese tea dapat menyebabkan penambahan berat badan jika dikonsumsi secara berlebihan. Hal ini terjadi ketika asupan kalori lebih besar daripada kalori yang dibakar tubuh. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko obesitas.
Selain itu, konsumsi gula berlebih juga dapat memengaruhi metabolisme tubuh dalam mengolah lemak dan kolesterol, sehingga memperbesar risiko terjadinya penyakit kronis.
4. Diabetes
Asupan gula yang tinggi dari cheese tea dapat meningkatkan kadar gula darah dan jika berlangsung terus-menerus, berisiko menyebabkan resistensi insulin. Kondisi ini dapat berkembang menjadi diabetes, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko tertentu.
5. Peningkatan kolesterol dan tekanan darah
Krim keju dalam cheese tea mengandung lemak jenuh dan natrium yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, hal ini dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah dan berkontribusi pada naiknya tekanan darah, yang merupakan faktor risiko penyakit jantung.
Menikmati cheese tea sesekali memang tidak masalah, terutama jika Anda ingin mencoba sensasi rasa yang unik dan menyegarkan. Namun, penting untuk tetap bijak dalam mengonsumsinya, mengingat kandungan gula, lemak, dan kalorinya yang cukup tinggi. Dengan membatasi frekuensi, misalnya 1–2 kali seminggu, Anda tetap bisa menikmati cheese tea tanpa mengorbankan kesehatan.
Agar lebih sehat, Anda bisa memilih porsi kecil, menggunakan kadar gula lebih rendah (less sugar), atau bahkan tanpa gula tambahan. Selain itu, hindari penggunaan topping tinggi gula seperti boba atau jelly, dan pilih varian dengan lebih banyak teh dibandingkan krim keju.
Sumber gambar: Google
Dilihat: 5 kali
