Naik Kendaraan Umum Saat Pandemi COVID-19: Risiko dan Tips Aman

Sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilongarkan, masyarakat mulai aktif bekerja, sekolah, bahkan berekreasi ke tempat wisata atau pusat perbelanjaan. Peningkatan aktivitas ini tentunya diiringi dengan peningkatan penggunaan alat transportasi. Oleh karena itu, penerapan adaptasi kebiasaan baru juga perlu diterapkan. Sebetulnya, apa saja risiko naik kendaraan umum saat pandemi COVID-19? Bagaimana tips amannya?

Risiko Penularan Covid-19 di Dalam Kendaraan

Virus SARS-CoV-2 dapat masuk dan menginfeksi tubuh seseorang melalui 3 pintu utama, yaitu mulut, hidung, dan mata. Beberapa cara penularan COVID-19 yaitu melalui:

Seseorang dapat menghembuskan droplet saat batuk, bersin, bernyanyi, atau berbicara kencang. Droplet yang dihembuskan bisa langsung masuk ke tubuh orang lain yang jaraknya kurang dari 1 meter.

Selain itu, droplet yang keluar juga dapat jatuh dan menempel di permukaan benda sekitarnya. Droplet ini dapat mengontaminasi permukaan benda dan bisa bertahan beberapa jam hingga beberapa hari jika permukaan tidak didesinfeksi.

Selama itu, seseorang bisa saja menyentuh permukaan yang sudah terkontaminasi virus dan menginfeksi dirinya saat menyentuh wajahnya sebelum mencuci tangan. Ini merupakan cara penularan kedua.

Penularan ini dapat terjadi melalui mikro-droplet atau droplet berukuran kecil. Mikro-droplet dapat melayang-layang di udara dalam waktu lama pada ruangan tertutup dengan aliran udara yang buruk. Proses ini umumnya terjadi pada prosedur medis di fasilitas kesehatan.

Banyak penelitian mulai menunjukkan bahwa penularan mikro-droplet ini juga dapat terjadi di luar fasilitas kesehatan, yaitu di tempat tertutup yang padat, aliran udara buruk, dan banyak orang yang melakukan aktivitas berisiko dalam waktu lama. Aktivitas berisiko yang dimaksud antara lain batuk, bersin, bernyanyi, atau berbicara kencang tanpa menggunakan masker.

Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa 78-85% penularan Covid-19 terjadi pada kasus dengan riwayat kontak erat dalam waktu lama.

Sementara di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Hasil Survei Sosial Demografi Dampak Covid-19 melaporkan bahwa ada sekitar 17,5% responden yang tidak bisa menghindari menggunakan transportasi umum. Dari semua itu, hanya 38,11% yang sudah menerapkan social distancing sejauh 2 meter atau lebih.

Fakta ini tentunya memprihatinkan mengingat alat transportasi di Indonesia seperti taksi, bus, atau kereta merupakan ruangan tertutup dengan aliran udara yang minimal. Oleh karena itu, alat transportasi, terutama transportasi umum, dianggap dapat meningkatkan risiko penularan Covid-19 kepada penumpang maupun petugas yang bekerja.

Padatnya penumpang juga membuat physical distancing sulit diterapkan.

Selain itu, pada transportasi umum juga terdapat banyak permukaan yang mungkin disentuh orang banyak, seperti pegangan pintu, tombol-tombol, dan lainnya. Hal ini bisa diperburuk dengan tidak adanya pemeriksaan gejala penyakit sebelum penumpang naik ke kendaraan.

Faktanya, WHO menyebutkan bahwa berdekatan dengan orang bergejala selama 1 jam atau lebih akan meningkatkan risiko terinfeksi. Bahkan, seseorang sudah dapat menularkan Covid-19 sejak 1-3 hari sebelum gejalanya muncul. Sebuah penelitian di Wuhan juga menunjukkan hubungan yang kuat antara peningkatan frekuensi perjalanan kereta dengan meningkatnya kasus Covid-19, terutama kasus import dari daerah lain.

Tips Aman Naik Transportasi Umum Selama Pandemi COVID-19

Secara umum, tetap dianjurkan untuk di rumah jika tidak ada sesuatu yang mendesak untuk dilakukan.

Keluar rumah hanya untuk keperluan bekerja, membeli keperluan dasar, atau mencari pertolongan medis. Jika terpaksa dianjurkan untuk berjalan kaki, bersepeda, menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum yang penumpangnya terbatas, seperti taksi atau ojek. Usahakan untuk bekerja dari rumah dan membeli kebutuhan dasar di pasar atau toko terdekat.

Hal-hal yang harus diperhatikan jika harus naik kendaraan umum:

1. Sebelum Perjalanan

2. Saat Perjalanan

3. Setelah Perjalanan

Perlu diketahui bahwa masyarakat memegang peran penting dalam pencegahan maupun penyebaran wabah COVID-19. Diharapkan masyarakat dapat lebih peduli dan bertanggung jawab dalam setiap tindakan.

Terkait pencegahan penularan virus SARS-CoV-2, tidak ada satu cara yang benar-benar efektif dapat menghentikan penularan virus. Semua cara yang direkomendasikan akan saling melengkapi dan harus dilakukan bersama-sama agar alat transportasi tidak menjadi sarana penyebaran penyakit atau menjadi klaster baru penyebaran COVID-19.

Sumber : Doktersehat.com

Exit mobile version