Sejarah Chuzhen di Indonesia: Jejak Pembelajaran dan Pewarisan Ilmu

Oleh: Fakhrur Rozi Muchtar, S.Ud., B.Med. | Sinshe Rozi

Ketika sebuah metode terapi mulai sering terlihat melalui foto, video, dan pelatihan, masyarakat biasanya lebih cepat mengenali alat serta gerakannya. Perjalanan yang membawa ilmu tersebut sampai kepada mereka sering kali kurang diperhatikan. Siapa yang mengajarkannya, bagaimana pengetahuannya diterjemahkan, dan melalui jalur apa pembelajarannya diteruskan merupakan bagian sejarah yang perlu dicatat.

Hal itu juga terjadi pada Chuzhen. Di Indonesia, Chuzhen kini diperkenalkan melalui praktik, pendidikan, buku, dan berbagai kegiatan pembelajaran. Namun, perkembangannya memiliki jejak yang mendahului kemunculannya di media sosial. Ada proses pertemuan antara pengajar dari Tiongkok, praktisi Indonesia, organisasi, serta lingkungan pendidikan yang secara bertahap menyediakan ruang bagi ilmu ini.

Menelusuri sejarah tersebut membantu kita memahami bahwa pengetahuan yang dipelajari hari ini merupakan hasil perjalanan banyak orang.

Jejak pengenalan melalui pelatihan

Chuzhen, yang dalam literatur internasional juga disebut Pestle Needle Therapy, menggunakan instrumen khusus untuk memberikan stimulasi pada permukaan tubuh tanpa melakukan penusukan. Metode ini memiliki teknik manipulasi serta sistem titik dan area khas yang dipelajari dalam kerangka Pengobatan Tradisional Tiongkok.

Salah satu jejak pengenalannya di Indonesia dapat ditelusuri pada akhir 2008. Dalam artikel yang diterbitkan pada 2021, Willie Japaries, Wijono Sukaputra Agussalim, dan Aryaprana Nando mendokumentasikan proses berkembangnya Chuzhen di Indonesia. Artikel tersebut menjelaskan adanya kesempatan belajar di Chengdu yang mempertemukan praktisi Indonesia dengan Chuzhen, kemudian diikuti komunikasi dengan organisasi naturopatis Indonesia dan kegiatan pengajaran Chuzhen di Jakarta oleh Luo Rong.

Publikasi tersebut juga memuat dokumentasi pemberitaan kegiatan dalam International Daily (Guoji Ribao) bertanggal 26 Desember 2008. Catatan ini penting karena menunjukkan bahwa pembelajaran Chuzhen secara terorganisasi telah berlangsung di Indonesia pada periode tersebut.

Naskah Ilmu Terapi Chuzhen yang saya susun turut menghimpun keterangan mengenai buku pegangan pelatihan yang diterbitkan Ikatan Naturopatis Indonesia. Materinya diterjemahkan oleh dr. Willie Japaries dan digunakan dalam rangkaian pembelajaran pada akhir Desember 2008 hingga awal Januari 2009.

Dari pelatihan menuju pendidikan

Pelatihan menyediakan kesempatan awal untuk mengenali suatu metode. Kesinambungannya bergantung pada tersedianya pengajar, bahan ajar, latihan, dan proses evaluasi.

Materi Chuzhen telah tercantum dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi Shinshe tahun 2011. Pembahasannya berada dalam lingkungan pendidikan Sinshe Tui Na, meliputi instrumen, teknik manipulasi, dan landasan penerapannya. Perkembangan berikutnya terlihat dalam standar kompetensi lulusan tahun 2014 dan kurikulum Sinshe tahun 2015. Materi Tui Na Chuzhen mencakup perencanaan terapi, persiapan instrumen, pelaksanaan teknik, serta perhatian terhadap kondisi pasien.

Keberadaan kurikulum berbasis kompetensi tersebut memperlihatkan bahwa Chuzhen mulai memperoleh tempat dalam pembelajaran yang terstruktur. Pengetahuan yang diperkenalkan melalui pelatihan kemudian diteruskan melalui kerangka pendidikan dan kompetensi.

Lingkungan Nalanda juga menjadi bagian penting dari perjalanan ini. Publikasi Japaries dan rekan-rekan pada 2021 mencatat penyebarluasan Chuzhen melalui Nalanda Buddhist College, organisasi praktisi Pengobatan Tradisional Tiongkok, serta LSK Sinshe.

Selanjutnya, Kurikulum Kursus dan Pelatihan Sinshe Chuzhen Terapeutik Jenjang III tahun 2023 memberi ruang pembelajaran yang lebih khusus. Dimana kurikulum tersebut cakupannya meliputi teori, instrumen, teknik, prosedur, komunikasi terapeutik, dan dokumentasi.

Perubahan ini menunjukkan bertambahnya perhatian terhadap kebutuhan pembelajaran Chuzhen. Kedudukan sebuah metode dalam kurikulum tetap perlu dibedakan dari pengakuan sebagai profesi tersendiri maupun pembuktian efektivitas klinisnya.

Praktik yang mulai meninggalkan jejak tertulis

Sejarah suatu terapi menjadi lebih mudah dipelajari ketika pengalaman praktisinya dituangkan dalam publikasi. Pada 2021, Jurnal Kesehatan memuat laporan kasus mengenai penggunaan Chuzhen pada sindrom servikal oleh Wijono Sukaputra Agussalim, Willie Japaries, Yelini Fan Hardi, dan Zhang Hui. Publikasi ini menjadi salah satu jejak tertulis penerapan Chuzhen dalam lingkungan akademik Indonesia.

Pada 2022, Medical Acupuncture menerbitkan dua laporan kasus yang memperluas jejak publikasi tersebut. Japaries dan Nando melaporkan penggunaan Pestle Needle (Chu Zhen) pada tiga pasien dengan nyeri pinggang bawah dan skiatika. Pada tahun yang sama, Japaries, Wen, dan Zhang menerbitkan laporan tiga kasus nyeri leher yang berasal dari Indonesia, Tiongkok, dan Denmark.

Laporan kasus memiliki nilai sebagai dokumentasi: pembaca dapat mempelajari keadaan pasien, tindakan yang diberikan, dan hasil yang dilaporkan. Namun, laporan kasus belum cukup untuk memastikan bahwa hasil serupa akan terjadi pada semua pasien atau untuk menetapkan efektivitas klinis secara umum.

Di sinilah perkembangan sejarah perlu berjalan bersama literasi ilmiah. Semakin banyak pengalaman dituliskan, semakin terbuka kesempatan untuk menelaah, mengoreksi, dan menyusun penelitian berikutnya.

Buku dan pembelajaran kembali ke Sichuan

Pada 2025, Saya bersama R.M. Alfian menyusun Ilmu Dasar Tui Na Chuzhen: Teori Dasar dan Aplikasi Klinis. Buku tersebut merupakan bagian dari usaha menyediakan bacaan berbahasa Indonesia agar pembelajaran dapat diteruskan di luar ruang kelas.

Penyusunan buku itu memiliki hubungan dengan perjalanan belajar saya sendiri. Saya mengenal Chuzhen di Indonesia melalui Hedi Suanto Tjong, kemudian memperdalam pemahaman melalui pembelajaran bersama dr. Willie Japaries dan kesempatan belajar berikutnya.

Pada tahun yang sama, saya mengikuti pembelajaran Chuzhen di Chengdu, Sichuan. Pertemuan dengan para penerus jalur pewarisan Chuzhen Li Zhongyu memberi kesempatan untuk mempelajari kembali teori, instrumen, teknik, serta praktiknya dalam lingkungan tempat tradisi Chuzhen berkembang.

Pengalaman itu memperkaya pemahaman yang sebelumnya diperoleh di Indonesia. Pengetahuan yang dibawa pulang kemudian menjadi bahan untuk meninjau kembali praktik, pengajaran, dan penulisan.

Perjalanan seorang peserta merupakan satu bagian dari proses yang lebih luas. Sejarah Chuzhen di Indonesia juga mencakup guru, penerjemah, penyusun kurikulum, penulis, peneliti, serta praktisi yang meneruskan pembelajaran kepada orang lain.

Mencatat agar dapat diteruskan

Dokumentasi yang tersedia memperlihatkan perjalanan Chuzhen melalui pelatihan, pendidikan, praktik, publikasi, dan penerbitan buku. Masing-masing meninggalkan jejak yang membantu generasi berikutnya memahami bagaimana ilmu ini berkembang di Indonesia.

Pekerjaan tersebut masih perlu dilanjutkan. Arsip pelatihan perlu dijaga. Bahan ajar perlu dihimpun. Pengalaman para pengajar perlu dicatat, sementara hasil praktik perlu ditelaah dengan metode penelitian yang sesuai.

Bagi saya, menulis sejarah Chuzhen merupakan bagian dari tanggung jawab belajar. Kita perlu mengetahui dari mana pengetahuan diperoleh, kepada siapa penghargaan diberikan, dan bagian mana yang masih membutuhkan penjelasan.

Ilmu dapat diwariskan dengan lebih baik ketika orang-orang yang mempelajarinya bersedia meninggalkan catatan yang jujur: tentang apa yang telah diketahui, apa yang telah dikerjakan, dan apa yang masih harus diteliti.

Daftar pustaka

Japaries, W., Agussalim, W. S., & Nando, A. (2021). Chuzhen massotherapy in TCM and Taoism-Buddhism development in Indonesia. The Journal of Chinese Medicine and Acupuncture, 28(1), 56–58.

Agussalim, W. S., Japaries, W., Hardi, Y. F., & Zhang, H. (2021). Efektivitas akupunktur Chuzhen untuk terapi sindrom servikal: Laporan kasus. Jurnal Kesehatan, 9(2), 88–92. https://doi.org/10.55912/jks.v9i2.90

Japaries, W., & Nando, A. (2022). Pestle needle (Chu Zhen) treatment for low-back pain and sciatica. Medical Acupuncture, 34(2), 137–141. https://doi.org/10.1089/acu.2021.0032

Japaries, W., Wen, B., & Zhang, H. (2022). Pestle needle (Chu Zhen) treatment for neck pain. Medical Acupuncture, 34(6), 400–404. https://doi.org/10.1089/acu.2021.0051

Muchtar, F. R., & Alfian, R. M. (2025). Ilmu dasar Tui Na Chuzhen: Teori dasar dan aplikasi klinis. KPPJB.

Tentang Penulis

Fakhrur Rozi Muchtar, S.Ud., B.Med. atau dikenal sebagai Sinshe Rozi, adalah praktisi Pengobatan Tradisional Tiongkok, penulis, dan pembelajar Chuzhen yang menaruh perhatian pada pengembangan pendidikan, literasi, praktik, dan penelitian Chuzhen (Pestle Needle Therapy) di Indonesia

#Chuzhen #PestleNeedle #SejarahChuzhen #SinsheRozi #FakhrurRoziMuchtar #PengobatanTradisionalTiongkok

Dilihat: 16 kali

Exit mobile version