Artikel Kesehatan

Styrofoam Makanan dan Risiko Kesehatannya

Styrofoam makanan dan risiko kesehatannya ternyata sangat banyak, tapi belum diketahui secara umum. Styrofoam banyak dipilih karena ringan, murah, dan mampu menjaga makanan tetap hangat. Namun, penting untuk mengetahui cara penggunaan yang tepat, karena bahan kimia dari styrofoam makanan dapat berpindah ke makanan dalam kondisi tertentu, terutama saat terkena panas tinggi.

Styrofoam makanan adalah istilah yang populer di masyarakat untuk menyebut wadah makanan berbahan expanded polystyrene atau polistirena. Jenis kemasan ini kerap digunakan untuk membungkus nasi, mi, gorengan, sup, atau berbagai makanan siap santap.

Jika digunakan sesuai aturan, styrofoam makanan memang dibuat agar bahan polistirena tidak mudah larut ke makanan. Namun, risiko tetap dapat terjadi bila penggunaan styrofoam makanan tidak tepat. 

Masalah biasanya muncul saat wadah digunakan untuk makanan yang sangat panas, dipanaskan ulang, atau bahkan dipakai berulang kali, padahal hanya dirancang untuk sekali pakai.

Styrofoam Makanan dan Risiko Kesehatan di Baliknya

Risiko kesehatan dari styrofoam makanan berkaitan dengan kemungkinan perpindahan zat kimia, khususnya stirena, dari wadah ke makanan. Tingkat risiko ini dipengaruhi oleh suhu makanan, jenis makanan, waktu kontak, dan kondisi wadah styrofoam makanan.

Berikut adalah hal-hal penting yang perlu Anda pahami mengenai styrofoam makanan:

1. Paparan stirena dari kemasan

Stirena adalah zat utama pembuat polistirena. Dalam jumlah kecil, sisa stirena dapat tetap ada di produk styrofoam makanan. 

Paparan stirena dalam kadar tinggi dan jangka panjang dapat menyebabkan gangguan saraf, hati, serta saluran pernapasan. Stirena juga digolongkan sebagai zat yang kemungkinan dapat menyebabkan kanker pada manusia, terutama paparan tinggi di lingkungan kerja.

2. Makanan panas dan berlemak meningkatkan risiko perpindahan zat

Makanan baru matang dan masih sangat panas memudahkan bahan kimia berpindah dari styrofoam ke makanan. Selain makanan panas, makanan berlemak/berminyak, seperti gorengan atau hidangan bersantan, juga memiliki efek yang sama. Bahkan, lemak dapat menarik bahan tertentu dari styrofoam, lebih baik daripada air.

3. Berbahaya jika dipanaskan di microwave

Wadah styrofoam makanan sebaiknya tidak dipanaskan, kecuali ada label aman untuk dimasukkan ke dalam microwave. Pemanasan tinggi dapat merusak wadah, melelehkan permukaan, atau meningkatkan perpindahan bahan kimia ke makanan.

4. Tidak untuk dipakai berulang kali

Wadah ini hanya untuk sekali pakai. Jika dicuci lalu dipakai berulang, permukaannya bisa rusak atau tercemar sisa makanan, sehingga risiko kontaminasi kuman dan perpindahan zat kimia makin tinggi.

Penting untuk diketahui, makan dari styrofoam makanan sesekali biasanya tidak langsung menyebabkan keracunan. Akan tetapi, kebiasaan memakai styrofoam makanan untuk makanan panas, berminyak, atau dipanaskan ulang sebaiknya dikurangi, karena paparan kecil yang berlangsung jangka panjang bisa membahayakan kesehatan.

Cara Aman Menggunakan dan Memilih Wadah Makanan

Supaya lebih aman, penggunaan styrofoam makanan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi makanan. Jika memungkinkan, pilih wadah lain yang lebih tahan panas untuk konsumsi sehari-hari. Berikut cara aman menggunakan dan memilih wadah makanan:

1. Hindari penggunaan untuk makanan yang masih sangat panas

Tunggu makanan agak dingin sebelum dimasukkan ke styrofoam makanan. Untuk makanan berkuah atau mendidih, sebaiknya pilih wadah kaca, stainless steel, keramik, atau plastik tahan panas.

2. Jangan pakai untuk makanan berminyak terlalu lama

Jika membeli makanan berminyak dalam styrofoam makanan, segera pindahkan ke piring atau wadah lain saat tiba di rumah. Jangan biarkan makanan panas dan berlemak berada di wadah selama berjam-jam.

3. Hindari memanaskan styrofoam makanan ke microwave

Gunakan wadah khusus dengan label aman microwave sebelum memanaskan makanan. Banyak styrofoam makanan tidak tahan suhu tinggi meski terlihat kuat.

4. Periksa tanda food grade di kemasan

Pilih styrofoam makanan yang sudah berlabel food grade (aman untuk makanan). Namun, tetap ingat bahwa label ini bukan berarti wadah boleh dipakai untuk makanan mendidih atau pemanasan ulang.

5. Jangan gunakan styrofoam makanan yang rusak atau berubah bentuk

Segera buang styrofoam makanan yang sudah meleleh, berlubang, berbau menyengat, atau berubah bentuk. Selain sudah tidak layak pakai, styrofoam makanan yang rusak akan memudahkan perpindahan zat kimia ke dalam makanan. 

Selain soal kesehatan, penggunaan styrofoam makanan juga berdampak negatif bagi lingkungan karena sulit terurai. Dengan mengurangi pemakaian wadah sekali pakai seperti styrofoam makanan, Anda tidak hanya menurunkan paparan bahan kimia, tetapi juga mengurangi sampah yang sulit diolah.

Sebenarnya, penggunaan styrofoam makanan tidak berbahaya jika hanya sekali pakai dan tidak untuk makanan sangat panas, berminyak, asam, atau dipanaskan ulang. Jika Anda sering membeli makanan dalam styrofoam makanan, biasakan segera memindahkan isinya ke wadah lain yang lebih aman.

Apabila Anda mengalami keluhan seperti mual, muntah, nyeri perut, diare, pusing berat, atau sesak napas setelah makan dari wadah tertentu, jangan langsung berasumsi masalahnya berasal dari styrofoam makanan ya. 

 

Sumber artikel: Alodokter.com

Sumber gambar: Google

Dilihat: 2 kali

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button