Banjir dan Risiko Penularan COVID-19, Ancaman Dobel Bencana

Memasuki musim hujan, Indonesia harus bersiap menghadapi serangan banjir. Terutama wilayah-wilayah yang setiap tahunnya hampir tidak pernah absen kedatangan banjir seperti Jakarta, Bekasi, dan sekitarnya. Ancaman banjir kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena dikhawatirkan akan meningkatkan risiko penularan COVID-19. 

Baik Pemerintah maupun masyarakat harus mulai menyiapkan mitigasi sebelum puncak musim hujan tiba. Apalagi BMKG mengabarkan kemungkinan munculnya La Nina, yakni anomali iklim yang membuat curah hujan tinggi di wilayah Indonesia. Lembaga ini telah mewanti-wanti kemungkinan munculnya cuaca ekstrem selama masa transisi September ke Oktober di beberapa wilayah Indonesia, khususnya Jawa Barat. 

Dalam masa transisi, diperkirakan hujan lebat disertai petir kemungkinan terjadi pada 22 September hingga 28 September. Musim hujan di Indonesia akan dimulai secara bertahap di akhir bulan Oktober, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami puncak musim hujan di bulan Januari dan Februari 2021.

Apakah banjir akan meningkatkan risiko penularan COVID-19? Bagaimana pencegahan yang paling memungkinkan dalam menghadapi banjir di masa pandemi ini?

Risiko dobel bencana, banjir di masa pandemi COVID-19

Musim hujan di masa pandemi ini membutuhkan usaha persiapan yang jauh lebih keras. Jika banjir terjadi akan ada risiko berlapis pada kesehatan masyarakat. 

1. Sulit melakukan pencegahan penularan COVID-19 di pengungsian banjir

“Kita ada di masalah berat kalau terjadi banjir dalam masa pandemi COVID-19 sekarang,” kata Tri Maharani, spesialis kedokteran emergensi, kepada Hello Sehat (23/4).

Menurut Maharani, tempat pengungsian akan menjadi lokasi yang sangat rentan sebagai sumber penularan COVID-19. Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun Indonesia mengalami bencana, tipikal tempat pengungsian selalu serupa. Tenda, ruang kelas, masjid, ataupun balai desa yang dijadikan tempat mengungsi korban banjir selalu penuh dan sulit untuk menjaga jarak.

Saat banjir Jakarta awal tahun ini misalnya, pengungsian di Masjid Universitas Borobudur ditempati 926 pengungsi warga Cipinang Melayu Jakarta Timur. Jumlah tersebut termasuk lansia dan ibu hamil yang rentan terhadap COVID-19.

“Tempat pengungsian pada masa pandemi tentu saja harus lebih dipersiapkan. Kalau nanti terjadi banjir dan para pengungsi ditaruh di penampungan seperti biasa, ya sudah tinggal menunggu disaster penyakit yang lebih besar,” kata Maharani yang sering ditugaskan di lokasi bencana.

Di tempat penampungan semacam ini, para pengungsi bukan hanya tidak bisa melakukan physical distancing, tapi sulit mencari air bersih dan makanan higienis.

2. Ancaman penyakit dan penurunan sistem imun

Penyakit langganan yang timbul di pengungsian saat bencana juga menjadi ancaman jika banjir datang saat masa pandemi COVID-19 tidak terkendali. 

Penyakit menyebar dengan cepat dalam bencana banjir. Menurut badan kesehatan dunia (WHO), banjir berpotensi meningkatkan penularan penyakit diantaranya:

  • Penyakit yang terbawa air seperti demam tifoid (tipes) dan leptospirosis yakni penyakit yang ditularkan oleh kencing tikus.
  • Penyakit yang ditularkan melalui hewan perantara (vektor) seperti demam berdarah dan malaria.

Risiko penyakit lainnya yang timbul saat banjir adalah infeksi saluran pernapasan, influenza, penyakit kulit, dan diare. 

“Kalau mereka sakit di masa pandemi gini itu bisa dua kali disaster itu, penyakit dari COVID-19 dan dari banjirnya,” ujar dokter Maha, sapaan akrab Maharani.

Selain itu, kondisi penampungan dan stres akibat banjir bisa melemahkan sistem imun para pengungsi. Tubuh mereka jadi semakin rentan terserang penyakit baik itu dari bakteri maupun virus. 

Beberapa hal yang masih bisa dilakukan untuk mencegah

Dilanda berbagai bencana pada saat yang sama bukanlah fenomena yang langka, namun COVID-19 telah menggarisbawahi perlunya ketahanan yang sistemik dan kebutuhan untuk tanggap darurat yang lebih efektif.

Sebelum banjir besar di lokasi rawan banjir yang menjadi zona merah COVID-19 terjadi, Maharani menyarankan pemerintah dan masyarakat untuk melakukan beberapa persiapan. 

1. Menyiapkan air bersih darurat dan toilet portabel

Sanitasi hampir selalu menjadi masalah utama dalam penanganan bencana. Kekurangan air bersih dan toilet akan menjadi sumber penyakit bukan hanya penyakit-penyakit banjir tapi juga pencegahan penularan COVID-19 karena kebersihan menjadi hal utama yang mesti dijaga. 

“Jangan sampai sudah banjir baru cari air bersih dan toilet, karena itu kunci kebersihan dan pencegahan penyakit. Ketika tidak ada air itu diare, mual, dan muntah akan mudah menyerang,” papar Maharani.

2. Siapkan tempat pengungsian yang paling layak yang bisa disiapkan 

Menurut Maharani, tempat pengungsian haruslah lokasi yang aman dari bencana. Jadi pemerintah bisa mulai menyiapkan strategi evakuasi warga yang wilayahnya rawan banjir. 

“Kalau perlu siapkan hotel, tidak perlu yang bagus, yang penting bisa jaga jarak dan jaga kesehatan,” tutur Maharani. Hal ini terutama untuk wilayah-wilayah rawan banjir dan saat ini merupakan zona merah penularan COVID-19 seperti, Jakarta, Bekasi, dan sekitarnya.

Maharani menyayangkan Indonesia yang tidak memiliki shelter atau penampungan khusus bencana. Padahal telah diketahui negara kita adalah negara rawan bencana alam. Awal pekan lalu, misalnya, Sukabumi sudah dilanda banjir dan terpaksa menjadikan musala sebagai tempat pengungsian. 

Pemerintah dalam hal ini BNPB mengatakan saat ini pihaknya akan tetap mengedepankan protokol pencegahan penularan COVID-19 dalam tanggap bencana banjir.

“BNPB sudah mengeluarkan edaran ke pemerintah daerah supaya bisa menjaga jarak di pengungsian, protokol kesehatan harus tetap dilakukan,” kata kepala humas BNPB, Raditya Jati, kepada Hello Sehat, Rabu (23/9). 

“Di Sukabumi kemarin ada relawan yang membagikan masker dan menggunakan pengeras suara untuk mengingatkan menjaga jarak,” lanjutnya.

3. Siapkan makanan instan yang higienis

Air minum dan makanan instan yang higienis diharapkan bisa dikonsumsi pengungsi di hari-hari awal bencana. Sehingga menghindari pertukaran alat makan dan menghindari masak dengan fasilitas yang tidak bersih. 

“Jangan mi instan karena ini akan semakin menurunkan daya tahan tubuh pengungsi,” ucap Raditya Jati. 

4. Masyarakat siap untuk dievakuasi

Masyarakat diharapkan mau bekerja sama dengan petugas untuk melakukan evakuasi sebelum kondisi banjir memburuk. Untuk itu, mereka yang berada di wilayah rawan banjir diminta untuk mulai berkemas dan mengamankan surat-surat berharga.

 

Sumber : Hellosehat.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *