Perlukah Tes Penciuman dalam Pemeriksaan COVID-19?

Melakukan tes kemampuan penciuman dianggap lebih efektif sebagai cara penapisan atau screening gejala awal COVID-19 dibanding pengetesan suhu tubuh. Hampir semua tempat umum melakukan penapisan atau screening dengan mengukur suhu tubuh pengunjungnya dengan thermogun atau thermal scanner. Padahal hanya ada sedikit bukti ilmiah bahwa pengukuran suhu tubuh dapat mengidentifikasi COVID-19. 

Kenapa tes kemampuan mencium lebih baik daripada pengecekan suhu tubuh sebagai alat penapisan?

Melakukan tes kemampuan penciuman dalam pemeriksaan gejala awal COVID-19

Tempat-tempat umum seperti kantor, pusat perbelanjaan, dan restoran mulai kembali dibuka. Sebagai langkah awal pencegahan, semua orang yang masuk diwajibkan mengenakan masker dan menjaga jarak. Selain itu di pintu masuk akan dilakukan pengecekan suhu tubuh yang hampir semuanya menggunakan termometer non-kontak seperti thermogun atau thermal scanner.  

Sayangnya pemeriksaan suhu bisa jadi sangat tidak efektif menunjukkan apakah seseorang terinfeksi COVID-19 atau tidak. Alasannya karena hasil pengukuran suhu dan alat termometer non-kontak ini tidak bisa diandalkan karena hanya mengukur suhu kulit. 

Selain itu, banyak kasus orang tanpa gejala (OTG) atau demam bukan salah satu gejala awal yang timbul. Kebalikannya, orang yang demam belum tentu terjangkit COVID-19. 

Data dari aplikasi ZOE COVID Symptom Study yang dipublikasi di Jurnal Nature menunjukkan bahwa lebih dari setengah orang (57%) yang dites positif COVID-19 tidak pernah mengalami demam. Sementara itu mereka yang memiliki suhu tinggi hanya mengalami demam rata-rata selama dua hari. Tidak mengherankan jika pemeriksaan suhu di bandara atau ruang publik lainnya gagal mendeteksi sebagian besar orang yang terinfeksi.

Apa gejala COVID-1 9 yang paling khas?

Berdasarkan data dari 4 juta orang, hilangnya kemampun penciuman bau (anosmia) adalah gejala utama COVID-19 yang dialami. 

Ahli epidemiologi Inggris, Tim Spector menyoroti data yang dihimpun dari aplikasi ZOE yang mereka kembangkan. Sekitar 65% orang dewasa yang positif COVID-19 melaporkan kehilangan kemampuan penciuman. Sebanyak 16% dari yang positif COVID-19 mengatakan bahwa kehilangan penciuman satu-satunya gejala yang mereka rasakan. 

Selama infeksi COVID-19, kehilangan penciuman berlangsung sekitar tujuh hari dan seringkali lebih lama. Sementara gejala demam hanya berlangsung selama tiga hari untuk kebanyakan orang.

Studi yang dilakukan University College London menyebut kehilangan penciuman adalah tanda kuat bahwa seseorang terinfeksi COVID-19. Dalam banyak kasus gejala ini terjadi tanpa gejala lainnya seperti batuk atau demam. 

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa hilangnya indra penciuman secara tiba-tiba adalah gejala awal COVID-19 yang lebih umum daripada demam di semua kelompok umur. Fakta ini yang membuat tes penciuman COVID-19 disebut sebagai prediktor yang jauh lebih baik. 

Kekurangan tes penciuman dalam penapisan pasien COVID-19

Berdasarkan fakta ini, banyak yang mengusulkan untuk melakukan tes penciuman secara luas. Meskipun secara teori tampaknya ide yang bagus, namun tes ini memiliki kekurangan.

Tim Spector mengatakan gejala anosmia ini bisa terjadi lebih lama dari pada infeksinya sendiri. Seseorang bisa jadi masih mengalami kehilangan penciuman padahal virus penyebab COVID-19 yang ia alami sudah tidak berpotensi menularkan.

Kedua, berkurangnya kemampuan indra penciuman cukup umum terjadi. Hampir 20% orang dewasa mengalami kehilangan penciuman, angka ini meningkat menjadi 80% untuk usia di atas 75 tahun. 

Banyak juga yang kehilangan indra penciuman saat mengalami hidung tersumbat yang disebabkan oleh flu biasa atau sinusitis. Meskipun hidung tersumbat tidak dianggap sebagai gejala COVID-19.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *