Scabies/Budug Penyakit Klasik Anak Pesantren

Tulisan ini didedikasikan buat guru guru pengajar di pesantren yang mungkin banyak terjadi kasus seperti ini

mungkin gak zaman lagi penyakit ini. Tapi masih ada.dan sering saya temukan sepanjang kegiatan praktek saya. Biasanya yang datang adalah anak anak masih usia sekolah dan kebanyakan memang bersekolah di pesantren. Dan keluarganya. Itulah sebab saya dedikasikan kepada para pengajar di pesantren karena kasus ini sering sekali ditemukan pada orang orang yang berasal dari komunitas pesantren.

Asal usul
Scabies ini berasal dari infeksi kutu yang disebut #sarcoptes_scabie. Kutu ini sangat kecil. Susah dilihat oleh mata telanjang. Dia menginfeksi pada bagian kulit. Menyebabkan gatal yang sangat, terutama pada malam hari. Penyebarannya dari alat alat pribadi sehari hari.. bisa dari pakaian, handuk, seprai . Hal inilah yang menyebabkan penyebarannya meluas, apa lagi pada komunitas pesantren yang anak didiknya kurang faham tentang penyakit ini. Sering saya dapati pengakuan pasien bahwa di pesantren para murid sering memakai pakaian dan alat alat pribadi teman temannya. Dan inilah dasar penyebarannya… 
Jadi mohon sangat kepada sahabat yang membaktikan hidupnya di pesantren untuk memahami penyakit ini. Jadi intinya adalah kebersihan/ higiene dan sanitasi lingkungan di kalangan komunitas pesantren.

Gejala : gatal, panas, demam bisa ditemukan, bintik merah dan menyebar soliter… Bahkan ditemukan pernanahan.

Kemungkinan untuk sembuh lebih baik dengan pengobatan yang tepat.

Obat yang bisa diberikan  mohon tetap ada pengawasan dari dokter) :

1. Permetrin 5%. Merupakan obat pilihan dengan tingkat keamanannya cukup tinggi, mudah pemakaiannya dan tidak mengiritasi kulit. Dapat digunakan di kepala dan leher anak usia kurang dari 2 tahun, tetapi untuk ibu hamil dan menyusui, serta bayi kurang dari 2 bulan belum diketahui keamanannya, setelah pemakaian ada kemungkinan gejala tidak langsung mengilang. Penggunaannya dengan cara dioleskan ditempat lesi lebih kurang 8 jam kemudian dicuci bersih. Dosisnya sekali pemakaian. Sediaannya yang beredar saat ini adalah SCABIMITE yang termasuk golongan obat Keras.

2. Malation. Malation 0,5 % dengan dasar air digunakan selama 24 jam. Pemberian berikutnya diberikan beberapa hari kemudian.

3. Emulsi Benzil-benzoas (20-25 %). Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari. Sering terjadi iritasi dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai

4. Sulfur. Dalam bentuk parafin lunak, sulfur 10 % secara umum aman dan efektif digunakan. Dalam konsentrasi 2,5 % dapat digunakan pada bayi. Obat ini digunakan pada malam hari selama 3 malam. Sediaan yang beredar: TALCYN.

5. Monosulfiran. Tersedia dalam bentuk lotion 25 %, yang sebelum digunakan harus ditambah 2 – 3 bagian dari air dan digunakan selama 2 – 3 hari.

6. Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan). Kadarnya 1 % dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan dan jarang terjadi iritasi. Tidak dianjurkan pada anak di bawah 6 tahun dan wanita hamil karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala ulangi seminggu kemudian. Sediaan yang beredar: PEDICUTOX.

7. Krotamiton 10 % dalam krim atau losio, merupakan obat pilihan. Mempunyai 2 efek sebagai antiskabies dan antigatal.

Terima kasih saya kepada para guru dan ustadz di setiap pesantren yg sangat fokus menjaga dan mendidik para santri… Salam takzim dan hormat…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *